surat ini saya tulis demi sebuah pencarian jawaban…
saya takkan pernah menyesali apa yang pernah terjadi dalam hidup saya. hal yang sudah lalu adalah pelajaran untuk terus maju dan berbuat lebih baik lagi di saat sekarang ini sembari menyongsong masa depan yang gemilang. segala puji bagi Allah untuk hal ini. termasuk saat dalam kehendak-Nya saya memulai karir dari daerah yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya, Sabbangparu, Wajo.
saya dengan penuh rasa syukur dan bahagia melayani belasan ribu rakyat sebagai dokter mereka. sejak pertama, saya sudah bertekad akan bekerja dengan baik. bukan untuk uang atau jabatan saya datang, namun karena sumpah sayalah. saya yakin rejeki itu sudah ada bagian masing-masing, tinggal kita yang menjemputnya, entah dengan cara yang baik atau tidak. dan saya memilih menjemput rejeki dengan cara yang baik agar harta saya halal lagi berkah.
ditempatkan sebagai dokter di puskesmas sabbangparu adalah sebuah hadiah istimewa. orang-orangnya, teman kerja saya adalah orang-orang yang begitu indah pribadinya. warganya pun adalah warga yang istimewa, dan saya begitu bersyukur sempat menyapa mereka dan menjadi bagian dari episode hidup ini. dan dari sini pula, dengan segala situasi dan kondisi yang digariskan dalam kehendak-Nya, saya memperoleh banyak pembelajaran yang luar biasa, dengan akselerasi yang luar biasa pula.
dalam surat ini saya takkan menyebut nama, karena bukanlah orang per orangnya yang saya tidak suka, namun sifat buruk itulah yang harus enyah, berubah menjadi lebih baik. secara ringkas, mungkin telah banyak pihak yang mengetahui hal ini, saya menolak menandatangani laporan operasional puskesmas kami di sabbangparu.
enam bulan yang lalu saya menandatangani laporan yang serupa. dan saat itu pula saya langsung melihat bahwa harus ada perbaikan dalam laporan tersebut. sedikit banyak ada perasaan trauma mengenai hal ini. dan saya tak ingin mengulang perasaan trauma itu kembali. saya mencari jawaban sejak saat itu, namun jawaban paling mencolok yang saya peroleh adalah “dari dulu begitu, dan dimana-mana begitu”.
sebuah jawaban yang takkan pernah saya setujui. mungkin di dunia ini, satu-satunya yang bisa mendapat tanggapan seperti itu adalah Titah Tuhan. dan segala produk hasil buatan manusia adalah dinamis sifatnya. jika undang-undang dasar negara bisa dibuat dan diamandemen, peraturan pemerintah bisa direvisi berkali-kali, setiap tahun malah, maka darimana argumen “dari dulu begitu, dan dimana-mana begitu” itu berpijak? satu pijakan yang mungkin digunakan argumen semacam ini adalah “ada kenikmatan disitu, walaupun semu, walaupun abai terhadap hak orang lain, itu begitu sulit untuk dilepaskan”.
kisah berikut ini menggambarkan situasi dan kondisi yang membuat saya mencari jawaban itu :
raja sebuah kerajaan besar, kerajaan Akhotha, bernafsu meluaskan wilayah kerajaannya agar ikut termaktub dalam sejarah dan menyamai prestasi kekhalifahan Islam, kekaisaran Mongol, ataupun imperium Roma. sang raja memutuskan bahwa akan dibentuk balatentara yang begitu kuat. rakyat dimobilisasi penuh.
ketika balatentara itu diperkirakan siap, maka mulailah mereka dikirim ke medan pertempuran. dari satu pertempuran ke pertempuran lainnya. laporan yang disampaikan kurir-kurir menunjukkan bahwa balatentara Akhotha menang di berbagai wilayah. upeti dan harta rampasan perang berdatangan. memenuhi kas negara. namun ada yang terlupakan oleh sang raja.
sang raja lupa menata moral birokrasi dan pimpinan balatentaranya. dalam anggaran perang memang sudah termaktub, berapa dana yang akan dialokasikan bagi para prajurit. tidak besar memang, namun setidaknya cukup jika benar seperti itu. namun kealpaan menata moral itu ternyata menjadi sumber bencana dan kekalahan di kemudian hari.
benar bahwa sudah ada alokasi anggaran gaji dan tunjangan prajurit. ada bonus untuk setiap tugas yang gilang-gemilang diselesaikan. namun sayangnya itu hanya di atas kertas semata. pada aplikasinya, anggaran itu dipotong oleh banyak pihak, sehingga yang sampai kepada para prajurit sudah jauh berkurang daripada yang mereka sudah bayangkan. logistik perang mereka juga sudah menipis.
akibatnya? moral tempur prajurit jatuh, mereka menjadi gusar lagi gundah-gulana. merasa hak mereka dikangkangi, parahnya “oleh entah siapa”. bahkan mudah tergoda untuk menjadi mata-mata pihak musuh dengan bayaran yang lebih tinggi. beberapa jenderal lapangan berpikir untuk membelot dan memberontak. jadilah balatentara yang dianggap besar itu menjadi organisasi yang keropos dan daya juangnya lemah. malah cenderung apati dan tidak lagi hormat kepada perintah. tumpul. dan kekalahan sudah membayang di depan pelupuk mata.
alih-alih meluaskan wilayah dan menorehkan sejarah, kerajaan ini menanti keruntuhannya akibat kelalaian menata moral sebagai pondasi dasar. seandainya saja moral jadi pondasi, maka balatentara itu akan menjadi begitu kokoh, mereka yang di garis depan akan maju membela raja mereka dengan gigih karena mereka yakin takkan dicurangi, sementara di sisi lain keperluan perang mengalir lancar tanpa putus. sayang, yang mereka alami, yang mereka pilih, adalah kebalikannya. pilihan yang membawa mereka pada kerugian besar.
kira-kira seperti itu gambarannya. tidak persis sama memang, karena organisasi yang saya didalamnya saat ini adalah organisasi sipil. namun prinsipnya tetap saja sama. organisasi yang kuat bukanlah dilihat dari data-data di atas kertas atau data-data yang dipublikasikan, namun diketahui dari keadaan riil di lapangan. laporan bisa saja dimanipulasi dan sekedar dicocokkan, namun bagaimana dengan hasil aplikasinya.
saya melihat, merasakan, dan bersama-sama bekerja dengan perawat, bidan, dan tenaga teknis lainnya di puskesmas. entah bagaimana perasaan mereka, namun saya berpikir bahwa seharusnya mereka ini mendapat imbalan lebih dari yang mereka peroleh saat ini. bahwa anggaran terbatas, itu sudah jelas. namun yang tak saya pahami adalah mengapa ada pihak yang mesti dipenuhi haknya secara mutlak, sementara ada pihak lain yang mesti dipotong haknya. parahnya, yang dipotong itu, seringkali yang sudah kecil porsinya. maka semakin kecil, atau malah nihil. bukankah akan lebih elok jika kue yang memang kecil itu, dibagikan kepada semua sesuai proporsi kerja, tugas dan tanggung jawab masing-masing? kebersamaan itu tumbuh subur dari sini.
saya teringat pesan kedua kakekku dahulu. dan ini jadi inspirasi hidup bagiku. “semakin tinggi seseorang, semakin ia dihormati, semakin terpandang, entah karena pengaruhnya, ilmu, kebijaksanaan, kekuatan, harta, atau apa saja yang memuliakannya dalam pandangan manusia, maka tanggung jawab yang ia emban dan yang akan dituntut daripadanya untuk melindungi dan menentramkan yang lebih kecil dan lebih lemah dari dirinya akan semakin besar”. jika berpatokan pada inspirasi ini, maka mereka yang memimpin haruslah mendahulukan yang dipimpinnya, barulah kemudian memikirkan dirinya sendiri. bukan malah pimpinan asyik-masyuk, sementara yang dipimpin hanya bisa pasrah dan mengelus dada.
warga yang saya temui, tua, muda, kaya, papa, sehat, sakit, murung, ataupun bahagia. rumah-rumah yang saya dipersilahkan masuk kedalamnya, tanpa peduli apakah mewah lagi megah, ataukah sederhana bahkan terkesan kumuh. saya membayangkan akan ada kehidupan yang lebih baik tersedia bagi mereka, dan bagi kita semua kelak. dan visi ini, do’a ini, akan berbenturan dengan hebatnya dengan sebuah jawaban semacam “dari dulu memang sudah begitu, dan dimana-mana begitu”.
bukanlah ribut-ribut yang saya inginkan. perubahan ke arah yang lebih baik itu yang saya harapkan. siapakah yang mampu memberi jawaban yang masuk akal dan bersesuaian dengan nurani mengenai hal ini. darimanakah akan tersuguhkan jawaban itu? jawaban mana yang akan sesuai dengan fitrah manusia? jawaban siapa yang akan menentramkan lagi menguatkan? ah, menulis, membaca ulang surat ini berkali-kali saja sudah begitu berat rasanya. entah, bagaimana pula perasaan yang membaca surat ini? saya kembali memohon maaf sedalam-dalamnya jika ada pihak yang merasa tidak nyaman karena pencarian jawaban ini. “hanya kepada Allah, Rabbul Izzati, kami menyembah dan memohon perlindungan…”