Negeriku, Negerimu, Negeri Kita!

Desember 22, 2008

satu tanda tangan, begitu bermakna…

Filed under: Kumandangku... — smartkoko @ 3:52 pm

tahun ini akan kuingat sebagai tahun momentum! tahun pembelajaran!

ditahun inilah saya mendapat sk cpns saya, merampungkan sekaligus merangkumkan atls dan acls (dalam kurun waktu kurang dari dua bulan) meski dengan sedikit megap-megap.

dan terlebih lagi, saya belajar dengan cepat mengenai tata kelola manajemen kesehatan. tidak melalui training, namun melalui sebuah tanda tangan!

tanda tangan yang saya tolak untuk bubuhkan diatas setumpuk kertas laporan karena kentalnya unsur manipulasi didalam laporan tersebut.

penolakan yang menghentak atasan maupun bawahan saya (yang pada intinya, mereka semua adalah mitra kerja). bahwa mestinya mereka mencoba alternatif cara lain yang lebih transparan dan berkeadilan dalam berkelindan di dunia birokrasi.

fiuh, Ya Rabb, terima kasih untuk pemaknaan kali ini. telah Engkau ajarkan pada hamba bahwa bukanlah jabatan itu yang menentukan kemuliaan seseorang, namun sejauh mana pengaruh baik diri kita berdampak pada pihak lain. lebih luas, lebih tinggi, dan lebih besar lagi, tanpa terkecuali. semoga saya tak menjadi angkuh karenanya…

satu hal konkrit, jangan pernah sembarangan bertanda tangan, berhati-hatilah, karena dalam tanda tangan kita itu terkandung banyak makna untuk kita pertanggungjawabkan… semoga Allah senantiasa melindungi kita dalam setiap langkah…alhamdulillah…

tetap semangat! maju terus, anak muda!

namaku dalam perspektif jepang

Filed under: Kumandangku... — Tag: — smartkoko @ 3:31 pm

“My authentic japanese name is Yoshikuni (good fortune country) and Naozumi (honest lucidity).

coba perhatikan, Yoshikuni dan Naozumi.

Yoshikuni, good fortune country, negeri kemakmuran, itulah yang saya cita-citakan.

dan Naozumi, honest lucidity, kejujuran yang terang benderang, brutality honest (versi lain dari tes kepribadian online yang saya ikuti), sebuah buku yang terbuka (kata teman dekat saya sewaktu kuliah).

ah, dalam bahasa apapun itu, saya berharap ini adalah isyarat sekaligus do’a agar setiap hari dalam hidupku ini menjadi lebih baik lagi…

Desember 20, 2008

jatuh cinta lagi…

Filed under: Kisahku — Tag: — smartkoko @ 11:46 pm

ow ow ow ow…

hahaha nanti saya sambung lagi ya…

beginilah jika jatuh cinta lagi!

wakakakak…

akhirnya setelah empat hari tulisan ini menanti untuk disempurnakan, saya merasa cukup punya kekuatan untuk kembali menorehkan tinta maya… wuahahaha…

sekitar sepuluh hari yang lalu, saya bertemu makhluk ciptaan Allah yang jelita… sangatlah jelita…

sudah lama saya mengenalnya. namun perasaan ini baru saja hinggap. perasaan yang membuat seolah-olah terbang, tidak menapak bumi.

tekanan darah saya saja turun rerata 10 basis poin lho! suhu tubuh hangat, sesuam-suam kuku…

mau apa-apa jadi lebih sabar, senyum makin sering mengembang, aaaahhhh…

dan sepertinya saya kenal perasaan ini, rasa yang sudah lama absen, kini hadir kembali… semoga bisa terpelihara, semoga bisa langgeng, hingga jadi kakek-nenek, yayayayaya…

terima-kasih-sendal-jepit

Filed under: Humor — Tag: — smartkoko @ 11:05 pm

oi, sendal jepit, terima kasih banyak ya!

sendal jepit, harganya murah. berkisar 5000-10000.

manfaatnya banyak. mengalahkan krim kaki yang harganya puluhan ribu rupiah.

mudah didapat. tidak menarik untuk ditimbun para spekulan.

mempererat silaturahim. saling bertukar sendal di masjid atau gawe massal lainnya adalah hal yang sering terjadi.

oh, bang penemu sendal jepit, terima kasih… terima kasih…

juga terima kasih buat para produsennya, para distributor, agen penyalur, dan tak lupa pengecernya…

Desember 9, 2008

versi lengkap alasan penolakan laporan operasional

Filed under: Kisahku — Tag: — smartkoko @ 11:28 pm

surat ini saya tulis demi sebuah pencarian jawaban…

saya takkan pernah menyesali apa yang pernah terjadi dalam hidup saya. hal yang sudah lalu adalah pelajaran untuk terus maju dan berbuat lebih baik lagi di saat sekarang ini sembari menyongsong masa depan yang gemilang. segala puji bagi Allah untuk hal ini. termasuk saat dalam kehendak-Nya saya memulai karir dari daerah yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya, Sabbangparu, Wajo.

saya dengan penuh rasa syukur dan bahagia melayani belasan ribu rakyat sebagai dokter mereka. sejak pertama, saya sudah bertekad akan bekerja dengan baik. bukan untuk uang atau jabatan saya datang, namun karena sumpah sayalah. saya yakin rejeki itu sudah ada bagian masing-masing, tinggal kita yang menjemputnya, entah dengan cara yang baik atau tidak. dan saya memilih menjemput rejeki dengan cara yang baik agar harta saya halal lagi berkah.

ditempatkan sebagai dokter di puskesmas sabbangparu adalah sebuah hadiah istimewa. orang-orangnya, teman kerja saya adalah orang-orang yang begitu indah pribadinya. warganya pun adalah warga yang istimewa, dan saya begitu bersyukur sempat menyapa  mereka dan menjadi bagian dari episode hidup ini. dan dari sini pula, dengan segala situasi dan kondisi yang digariskan dalam kehendak-Nya, saya  memperoleh  banyak pembelajaran yang luar biasa, dengan akselerasi  yang luar biasa pula.

dalam surat ini saya takkan menyebut nama, karena bukanlah orang per orangnya yang saya tidak suka, namun sifat buruk itulah yang harus enyah, berubah menjadi lebih baik. secara ringkas, mungkin telah banyak pihak yang mengetahui hal ini, saya menolak menandatangani laporan operasional puskesmas kami di sabbangparu.

enam bulan yang lalu saya menandatangani laporan yang serupa. dan saat itu pula saya langsung melihat bahwa harus ada perbaikan dalam laporan tersebut. sedikit banyak ada perasaan trauma mengenai hal ini. dan saya tak ingin mengulang perasaan trauma itu kembali. saya mencari jawaban sejak saat itu, namun jawaban paling mencolok yang saya peroleh adalah “dari dulu begitu, dan dimana-mana begitu”.

sebuah jawaban yang takkan pernah saya setujui. mungkin di dunia ini, satu-satunya yang bisa mendapat tanggapan seperti itu adalah Titah Tuhan. dan segala produk hasil buatan manusia adalah dinamis sifatnya. jika undang-undang dasar negara bisa dibuat dan diamandemen, peraturan pemerintah bisa direvisi berkali-kali, setiap tahun malah, maka darimana argumen “dari dulu begitu, dan dimana-mana begitu” itu berpijak? satu pijakan yang mungkin digunakan argumen semacam ini adalah “ada kenikmatan disitu, walaupun semu, walaupun abai terhadap hak orang lain, itu begitu sulit untuk dilepaskan”.

kisah berikut ini menggambarkan situasi dan kondisi yang membuat saya mencari jawaban itu :

raja sebuah kerajaan besar, kerajaan Akhotha, bernafsu meluaskan wilayah kerajaannya agar ikut termaktub dalam sejarah dan menyamai prestasi kekhalifahan Islam, kekaisaran Mongol, ataupun imperium Roma. sang raja memutuskan bahwa akan dibentuk balatentara yang begitu kuat. rakyat dimobilisasi penuh.

ketika balatentara itu diperkirakan siap, maka mulailah mereka dikirim ke medan pertempuran. dari satu pertempuran ke pertempuran lainnya. laporan yang disampaikan kurir-kurir menunjukkan bahwa balatentara Akhotha menang di berbagai wilayah. upeti dan harta rampasan perang berdatangan. memenuhi kas negara. namun ada yang terlupakan oleh sang raja.

sang raja lupa menata moral birokrasi dan pimpinan balatentaranya. dalam anggaran perang memang sudah termaktub, berapa dana yang akan dialokasikan bagi para prajurit. tidak besar memang, namun setidaknya cukup jika benar seperti itu. namun kealpaan menata moral itu ternyata menjadi sumber bencana dan kekalahan di kemudian hari.

benar bahwa sudah ada alokasi anggaran gaji dan tunjangan prajurit. ada bonus untuk setiap tugas yang gilang-gemilang diselesaikan. namun sayangnya itu hanya di atas kertas semata. pada aplikasinya, anggaran itu dipotong oleh banyak pihak, sehingga yang sampai kepada para prajurit sudah jauh berkurang daripada yang mereka sudah bayangkan. logistik perang mereka juga sudah menipis.

akibatnya? moral tempur prajurit jatuh, mereka menjadi gusar lagi gundah-gulana. merasa hak mereka dikangkangi, parahnya “oleh entah siapa”. bahkan mudah tergoda untuk menjadi mata-mata pihak musuh dengan bayaran yang lebih tinggi. beberapa jenderal lapangan berpikir untuk membelot dan memberontak. jadilah balatentara yang dianggap besar itu menjadi organisasi yang keropos dan daya juangnya lemah. malah cenderung apati dan tidak lagi hormat kepada perintah. tumpul. dan kekalahan sudah membayang di depan pelupuk mata.

alih-alih meluaskan wilayah dan menorehkan sejarah, kerajaan ini menanti keruntuhannya akibat kelalaian menata moral sebagai pondasi dasar. seandainya saja moral jadi pondasi, maka balatentara itu akan menjadi begitu kokoh, mereka yang di garis depan akan maju membela raja mereka dengan gigih karena mereka yakin takkan dicurangi, sementara di sisi lain keperluan perang mengalir lancar tanpa putus. sayang, yang mereka alami, yang mereka pilih, adalah kebalikannya. pilihan yang membawa mereka pada kerugian besar.

kira-kira seperti itu gambarannya. tidak persis sama memang, karena organisasi yang saya didalamnya saat ini adalah organisasi sipil. namun prinsipnya tetap saja sama. organisasi yang kuat bukanlah dilihat dari data-data di atas kertas atau data-data yang dipublikasikan, namun diketahui dari keadaan riil di lapangan. laporan bisa saja dimanipulasi dan sekedar dicocokkan, namun bagaimana dengan hasil aplikasinya.

saya melihat, merasakan, dan bersama-sama bekerja dengan perawat, bidan, dan tenaga teknis lainnya di puskesmas. entah bagaimana perasaan mereka, namun saya berpikir bahwa seharusnya mereka ini mendapat imbalan lebih dari yang mereka peroleh saat ini. bahwa anggaran terbatas, itu sudah jelas. namun yang tak saya pahami adalah mengapa ada pihak yang mesti dipenuhi haknya secara mutlak, sementara ada pihak lain yang mesti dipotong haknya. parahnya, yang dipotong itu, seringkali yang sudah kecil porsinya. maka semakin kecil, atau malah nihil. bukankah akan lebih elok jika kue yang memang kecil itu, dibagikan kepada semua sesuai proporsi kerja, tugas dan tanggung jawab masing-masing? kebersamaan itu tumbuh subur dari sini.

saya teringat pesan kedua kakekku dahulu. dan ini jadi inspirasi hidup bagiku. “semakin tinggi seseorang, semakin ia dihormati, semakin terpandang, entah karena pengaruhnya, ilmu, kebijaksanaan, kekuatan, harta, atau apa saja yang memuliakannya dalam pandangan manusia,  maka tanggung jawab yang ia emban dan yang akan dituntut daripadanya untuk melindungi dan menentramkan yang lebih kecil dan lebih lemah dari dirinya akan semakin besar”. jika berpatokan pada inspirasi ini, maka mereka yang memimpin haruslah mendahulukan yang dipimpinnya, barulah kemudian memikirkan dirinya sendiri. bukan malah pimpinan asyik-masyuk, sementara yang dipimpin hanya bisa pasrah dan mengelus dada.

warga yang saya temui, tua, muda, kaya, papa, sehat, sakit, murung, ataupun bahagia. rumah-rumah yang saya dipersilahkan masuk kedalamnya, tanpa peduli apakah mewah lagi megah, ataukah sederhana bahkan terkesan kumuh. saya membayangkan akan ada kehidupan yang lebih baik tersedia bagi mereka, dan bagi kita semua kelak. dan visi ini, do’a ini, akan berbenturan dengan hebatnya dengan sebuah jawaban semacam “dari dulu memang sudah begitu, dan dimana-mana begitu”.

bukanlah ribut-ribut yang saya inginkan. perubahan ke arah yang lebih baik itu yang saya harapkan. siapakah yang mampu memberi jawaban yang masuk akal dan bersesuaian dengan nurani mengenai hal ini. darimanakah akan tersuguhkan jawaban itu? jawaban mana yang akan sesuai dengan fitrah manusia? jawaban siapa yang akan menentramkan lagi menguatkan? ah, menulis, membaca ulang surat ini berkali-kali saja sudah begitu berat rasanya. entah, bagaimana pula perasaan yang membaca surat ini? saya kembali memohon maaf sedalam-dalamnya jika ada pihak yang merasa tidak nyaman karena pencarian jawaban ini.  “hanya kepada Allah, Rabbul Izzati, kami menyembah dan memohon perlindungan…”

Desember 7, 2008

Keluarga Haruni, Keluarga Thala, Keluarga Takdir,…

Filed under: Kisahku — Tag: — smartkoko @ 12:18 pm

saya dengan penuh kebahagiaan mensyukuri bahwa Allah menggariskanku lahir ke dunia melalui keluarga ini.

saya kembali disadarkan bahwa saya sudah sepantasnya mensyukuri hal ini setelah beberapa hari lalu ada seorang purnawirawan TNI yang menjadi pasien saya di puskesmas.

bapak yang sudah sepuh ini terasa benar aura tentaranya ketika masuk ke ruangan saya. wajahnya segar meski sudah senior.

cerita berlanjut tidak hanya keluhan-keluhan beliau, namun juga kisah hidupnya. seketika saya ingin memancing beliau sedikit lebih jauh.

saya menyebut nama almarhum kakek saya. “A. Haruni”. seketika wajah purnawirawan ini semakin sumringah. “beliau adalah komandan kami dahulu…”. rasa senangnya terpancar lebih kental sejak itu. bahkan ketika dirasa semua sudah cukup, ia keluar dari ruangan itu dengan sukacita, sudah bertemu dengan cucu komandannya.

diceritakannya perihal ini kepada pasien dan staf puskesmas lainnya. dijabatnya tangan mereka satu demi satu. bahkan saya mendengar suaranya menggema dengan kerasnya, menyiratkan kebanggaan dan kebahagiaan.

didalam, saya pun terus bersyukur. betapa keluarga kami masih diingat dan dikenang dalam relung hati orang yang pernah bersama dan menjadi bagian dari keluarga kami.

saya punya dua orang kakek. “A. Haruni”, ayah dari ayah saya “A. Takdir” (bagi yang mungkin bertanya mengapa nama mereka dan namaku ada huruf A didepannya maka A = Andi, gelaran bangsawan tanah Bugis) adalah seorang bangsawan yang juga tentara. hidup beliau diabdikan dalam paduan dua kultur itu. disiplin dan pengayom masyarakat.

kakek yang satu lagi, “Mohammad Thala”, ayah dari ibu saya. beliau adalah ulama sekaligus akademisi. menghasilkan paduan yang tak kalah indahnya. kejujuran dan kedisiplinan jadi pegangan hidup kakekku ini.

anak-anaknya? ayah dan ibuku? jangan tanya! eh, maksud saya sudah hampir pasti, sudah bisa dibayangkan bagaimana hasilnya…

dan anak-anak dari ayah dan ibuku? aku? adik-adikku? ceritanya semakin jelas. ditengah-tengah didikan model dan kultur hidup yang ditanamkan sejak kecil, maka kejujuran terasa benar…

saya ingat pernah suatu kali, sewaktu saya berusia enam tahun. saya dihukum sembari dinasehati karena menilep uang jajan dan pembeli buku. setelah itu? kapok!

ayah saya lain lagi. sekarang beliau masih merangkap beberapa amanah. namun syukur Alhamdulillah, dimanapun ayah saya bertugas, bawahannya selalu mengenang kebaikan dan kesederhanaan beliau. malah dari pos terakhir yang ditinggalkan ayah saya, saya mendengar kisah ini.

pegawai yang ditinggalkan beliau mengamuk. mereka mencari ayah saya, meminta beliau kembali memimpin. di masa ayah saya, kesejahteraan mereka diperhatikan. gaji mereka selalu dibayarkan. bahkan ketika ada masalah keuangan, ayah saya akan menalangi terlebih dahulu dari rekening pribadinya, kadang mencapai ratusan juta.

ah, betapa saya bahagia lahir dalam keluarga ini. dan saya berharap agar Allah senantiasa melindungi kami semua…

Selamat Idul Adha…

Filed under: Kumandangku... — Tag: — smartkoko @ 11:24 am

“Bukanlah daging sembelihan qurban yang mengantarkan kita ke surga. Tapi kepedulian dan semangat tauhid yang menaklukkan materialisme, itulah esensi dalam qurban kita. Selamat Idul Adha, teman-teman…”

Maju terus, Anak Muda!

Allahu Akbar!

Dr. Koko..

Desember 3, 2008

daun-daun pohon asam depan rumah

Filed under: Kisahku — Tag: — smartkoko @ 3:03 pm

sebenarnya saya ini termasuk orang pecinta kebersihan, keteraturan, kerapihan, dan kedisiplinan. menyapu, mencuci, termasuk dalam daftar olahraga harian.

tapi, ada satu hal sepertinya yang untuk saat ini mendapat pengecualian. daun-daun pohon asam yang tumbuh dengan kokohnya, menjulang tinggi, tepat di depan rumah dinas. sore hari ketika angin berhembus, maka daun-daun itu dihantarkan pula ke pekarangan rumah, masuk melalui pintu dan jendela yang sengaja kubuka.

daun-daun kecil itu kubiarkan saja masuk ke kamar tidur, teras, dan ruang tamu. mengisi, memenuhi lantai di tiap ruangan itu. kubiarkan saja. ada perasaan damai melihat mereka menyambangi rumah ini bersama hembusan angin yang terasa begitu sejuk itu… subhanallah… terima kasih banyak Ya Allah Ya Rabbul Alamin…

doaku ketika praktik sore

Filed under: Kisahku — Tag: — smartkoko @ 9:23 am

“Ya Allah, hamba tak mengharapkan orang-orang menjadi jatuh sakit, namun yang hamba harapkan adalah ketika mereka sakit, hamba-Mu inilah yang menjadi jalan kesembuhan bagi mereka…”

Move On

Filed under: Kumandangku... — Tag: — smartkoko @ 5:06 am

Good things don’t come to those who wait; they come to the people who go out and try to get them.

« Tulisan Lebih BaruTulisan yang Lebih Tua »

Tema: Banana Smoothie. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.