“a leader is one who sees more than others see, who sees farther than others see, and who sees before others see.”
-leroy eimes-
“a leader is one who sees more than others see, who sees farther than others see, and who sees before others see.”
-leroy eimes-
“one of the tests of leadership is to recognize a problem before it becomes an emergency”
-arnold glasow-
“many people have ideas on how others should change; few people have ideas on how they should change.”
-leo tolstoy-
mayoritas ulama, termasuk di indonesia sudah angkat suara mengenai keharaman rokok. Alhamdulillah.
kami dari dunia medis mendukung fatwa tersebut. Allahu Akbar!
namun, ada satu yang ingin saya soroti secara singkat. oleh beberapa kalangan, MUI sepertinya ingin mereka gertak dan takut-takuti agar membatalkan niat untuk me-launching fatwa mengenai keharaman rokok. pihak pro-kehancuran bangsa akibat rokok itu menyatakan bahwa jika fatwa ini keluar, maka takkan diikuti umat, sehingga MUI akan semakin jauh dari kaum muslimin di Indonesia.
namun kenyataannya, di tempat tugas saya, sebagai gambaran kecil saja, polisi-polisi lajang yang dulunya perokok, sekarang berusaha berhenti setelah mengetahui fatwa itu, yang dikuatkan dengan seruan dari dunia kesehatan. pun di puskesmas tempatku bertugas, larangan merokok kembali ditegakkan. dan hanya tersisa area sempit untuk para perokok memenuhi hasrat ketagihan mereka. di pinggir jalan puskesmas, ehm.
sudahlah, sekarang rokok sudah jelas haram. mari pikirkan transisi pekerja yang dulunya hidup dari dunia asap agar mampu tetap hidup dari sektor bisnis lainnya. ulama-ulama hanyalah melaksanakan tugas sebagai pelindung umat, dan dokter-dokter pun melaksanakan tugas sebagai benteng kesehatan rakyat. tolong pemerintah dan pengusaha berkolaborasi dalam kreasi memindahkan kapital yang sebelumnya ada dalam sektor rokok menjadi kapital sektor lain yang tidak merugikan kesehatan, namun tetap menggerakkan roda ekonomi negeri kita.
saya merasa agak miris mengetahui kejadian di pasuruan beberapa waktu lalu.
sebuah acara bertajuk pembagian zakat, berubah menjadi tragedi kemanusiaan.
oleh karena kurang matangnya perencanaan terhadap acara yang dihadiri ribuan kaum papa itu, dua puluh satu orang dari mereka meninggal, dan banyak lagi yang cedera. padahal mereka datang untuk mendapatkan uang yang dijanjikan sebesar empat puluh ribu rupiah. toh, kenyataannya mereka malah mendapatkan tiga puluh ribu bahkan dua puluh ribu rupiah saja.
inilah gambaran mengenai kondisi riil negeri kita. rakyat kita masih belum benar-benar merdeka, mindset tangan dibawah dan tidak berdaya yang terpelihara dalam akal mereka. akibatnya? uang bertukar nyawa.
boleh jadi acara ini dilandasi niat baik, namun metodenya kurang bagus. saya jadi ingin sumbang saran. untuk berikutnya, para dermawan yang ingin menunaikan kewajiban membayar zakat baiknya barangkali mendatangi langsung orang yang memerlukan, mengarahkan dan membimbing mereka menjadi lebih produktif dengan zakat tersebut, atau manfaatkan jasa amil zakat yang terpercaya dan profesional.
janganlah pertontonkan kemiskinan dan ketidakberdayaan saudara kita. cukup! tidakkah kita merasa pedih nan perih menyadari ini semua?
Beberapa waktu lalu, media massa tak henti menyajikan informasi mengenai daging yang sebenarnya sudah dibuang, tidak layak lagi dikonsumsi, namun kemudian “di-re-use” untuk kemudian dijual kembali.
Ajaib. Amazing! Dan itulah Indonesia kita.
Demi uang, maka segala cara dihalalkan. Tak peduli bagaimana dampaknya terhadap orang lain. Dalam kasus daging sampah ini, bahkan sempat membuatku bergidik jika berhadapan dengan makanan yang bahan bakunya dari daging.
Bayangkan! Daging yang sudah busuk, diambil dari tempat sampah, dimasak kembali, diberi pewarna tekstil, digoreng dengan minyak goreng yang entah sudah bekas berapa kali pula. Betapa besar resikonya untuk kesehatan rakyat kita!
Astaghfirullah… Hentikanlah usaha seperti ini, tolong pertimbangkan kembali dengan akal sehat dan nurani kita dalam setiap langkah… Ah…
Busyet, kurang dari dua pekan, lima kali kuretase!
Mulanya saya agak heran karena dalam dua minggu ini, di puskesmas tempat tugasku, saya menangani lima pasien yang harus mendapatkan terapi berupa tindakan kuretase.
Usut punya usut, mayoritas dari wanita yang menjadi pasien saya kali ini berasal dari daerah yang kemarin sempat saya kunjungi selama puskesmas keliling. Harus saya tegaskan kembali betapa jelek sarana jalan di lingkungan mereka. Parah! Akibatnya, meski berkendara untuk jarak tempuh relatif pendek saja, mereka pun mengalami “penundaan untuk mendapatkan momongan”.
Yah, wanita-wanita ini termasuk dalam korban akibat jeleknya sarana, yang kalau dirunut bisa kita temukan beberapa penyebab. Bisa jadi karena adanya oknum kontraktor yang nakal (tipe tukang makan aspal, tukang minum campuran beton), atau bisa jadi ada oknum pemerintah yang kongkalikong menentukan nilai proyek, atau bisa jadi oknum pemerintahnya memang tidak cukup cerdas untuk mampu membiayai pembangunan sarana dan prasarana masyarakatnya.
Setali tiga uang dengan pasienku yang ISK (infeksi saluran kemih berulang karena tidak tersedia sarana sanitasi yang cukup higienis dan representatif di pasar tempatnya mondok sekeluarga. Atau kasus SMA di kecamatan tempat domisiliku saat ini yang tidak tersedia WC, sehingga siswa-siswi dan gurunya harus rela menahan “hasrat ingin pipis” selama berada dalam lingkungan sekolahnya.
Ah… korupsi dan kolusi, wanprestasi dan penyalahgunaan wewenang terus memakan korban, termasuk pasien-pasien yang saya rawat kali ini. Semoga saya tetap terjaga dan terpelihara sembari terus maju, mengembangkan potensi diri, dan semakin kuat, untuk menghadapi dan menghadang perilaku yang tidak sehat dan tidak pantas dari oknum-oknum pemerintah yang tidak lagi tergolong pengayom masyarakat.
Berapa pasienmu hari ini, Ko?
(kebiasaan ayah dan ibuku di malam hari) dan si Mbak dan Mas, pasienku dan kisah mereka yang luar biasa menyentuh…
Biasanya setelah waktu maghrib atau isya, orang tuaku akan menanyakan mengenai apa saja yang telah kukerjakan seharian tadi.
Minimal memberikan dukungan-lah.
Pertanyaan paling sering adalah mengenai apa saja pasien yang saya dapatkan hari ini dan berapa jumlahnya.
Pagi sebagai abdi negara dan abdi masyarakat berapa, dan sore hingga malam harinya sebagai dokter praktik swasta juga berapa.
Kadang saya ogah meladeni pertanyaan mereka jika sepanjang hari itu pasienku sedikit.
Bukannya apa-apa, tapi hampir pasti diledek terlebih dahulu. Hahaha.
Pekan lalu, saya mendapatkan satu lagi tantangan. Lumayan berat dan belum benar-benar tuntas hingga hari ini.
Alkisah, tiga hari sebelumnya, puskesmas kami kedatangan seorang ibu (untuk berikutnya disebut si Mbak, lengkapnya mbak Rukmini).
Sebenarnya hari taksiran persalinannya sekitar dua minggu lagi, namun ia merasa kesakitan seolah ingin bersalin.
Saya bersama bidan-bidan puskesmas memeriksanya, namun mendapati kepala bayi belum turun.
Saya kemudian memberinya tokolitik dan juga antibiotik, mengingat riwayat si Mbak ini menderita ISK rekuren.
Tak lupa vitamin dan penambah darah mengingat status gizinya yang “aduuuh mak!”…
ISK rekuren inilah yang saya jadikan dasar pemicu kontraksi yang belum waktunya.
Selama tiga hari dirawat, si Mbak tidak lagi merasa sakit.
Namun yang terjadi tengah malam hari keempat ia dirawat benar-benar diluar dugaan kami.
Tiba-tiba, cairan keluar dari bawah, dan itu bukanlah ketuban. Sangat pesing. Seperti aroma air seni yang sudah sangat lama.
Bukan darah, bukan pula air seni, darimana asalnya cairan ini ???
Seketika, keadaan aman tentram berganti rasa sakit dan kegaduhan.
Sia*an! Ini bukan persalinan normal, ini… bukan wilayah kerja kami lagi di puskesmas!
Rujuk! Rujuk segera, itulah yang kupikirkan!
Kami menghubungi ibukota kabupaten dan juga beberapa kabupaten tetangga lainnya, berharap menemukan ahli kandungan.
Dari sekian rumah sakit yang kami hubungi, kami mendapati dokter kandungan di kabupaten tetangga.
Sekitar enam puluh kilometer dari puskesmas.
Dinihari itu segalanya difokuskan kepada penyelamatan nyawa ibu dan bayinya.
Si Mbak dikirim dengan ambulans ke rumah sakit kabupaten tetangga.
Dan, benar disana si Mbak segera menjalani sectio cesaria, untuk menyelamatkan anaknya.
Dari sejawat ahli kandungan yang mengoperasi si Mbak, kami dapatkan penjelasan sumber cairan pesing itu.
Ternyata selain hamil, si Mbak ini menderita tumor di kandung kencingnya.
Tumor itu belum diangkat, atas pertimbangan status ketahanan fisik si Mbak yang benar-benar lemah, sehingga dokter yang mengoperasinya tidak menjalankan double procedure.
Masalah nyawa si Mbak dan anaknya mungkin sudah terselesaikan kini.
Namun ada satu masalah. Duit.
Sebenarnya ini tidak akan menjadi masalah besar seandainya si Mbak dirawat dalam wilayah yurisdiksi kabupaten kami.
Atau yang lebih penting lagi, jika ia mampu membayar biayanya.
Masalahnya, sistem kesehatan gratis untuk seluruh kabupaten belum berlaku, dan masih ada perbedaan definisi dalam pelayanan kesehatan antar kabupaten. Ini belum 1 Juli…
Dan yang lebih parah, si Mbak ini beserta suami dan anak-anaknya adalah keluarga yang sudah sangat bersyukur untuk dapat makan setiap hari.
Meski tergolong tidak mampu, si Mbak sedang “terjebak” dalam sebuah sistem yang tidak mengakomodasinya.
Ia diharuskan membayar agar bisa keluar dari rumah sakit karena memang namanya tidak tercantum sebagai orang yang berhak menerima pelayanan kesehatan gratis di kabupaten itu.
Okelah, tak ada yang dapat disalahkan dalam hal ini, kecuali mungkin sistem yang belum mencakup keluarga si Mbak.
Bahkan mungkin saja, sebenarnya kami semua, bisa saja mengabaikan keberadaan si Mbak, karena toh ia terjebak dalam sistem.
Saya kemudian menganggap harus turun tangan langsung sekali lagi.
Jika dibiarkan, biaya perawatan si Mbak akan terus melambung.
Apalagi mengingat ia perlu pemulihan dari operasi pertama, dan akan dioperasi untuk kedua kalinya untuk mengangkat tumor dalam kandung kemihnya.
Tidak makan waktu sebentar semua prosedur ini…
Pindah rawat segera kembali ke wilayah yurisdiksi kami, itulah opsi terbaik bagi si Mbak yang benar-benar tidak mampu ini.
Saya kemudian ditemani perawat dan bidan menjemput si Mbak dari rumah sakit tetangga untuk dipindahkan ke rumah sakit kabupaten.
Hari itu, saya disodori angka yang menghampiri tiga jutaan, sebuah angka bagi “kebebasan” si Mbak.
Well, tak satupun dari kami siap dengan angka itu.
Tapi kalau dibiarkan, mau dijemput kapan lagi ??? Apa dibiarkan saja ??? Ah, tidak tega! Dimana sumpah dokterku jika saya mengabaikannya ???
Saya pun mengajukan diri sebagai penanggung jawab untuk si Mbak dan akan menalangi biaya perawatannya dalam tenggat waktu seminggu.
Namun yang terjadi kemudian, sekali lagi membuatku merasa lemas.
Rumah sakit menolakku sebagai penjamin. Kata mereka beban rumah sakit sudah terlampau banyak.
Sia*! Apa-apaan ini…
Ya Allah, bantu hamba-Mu untuk selesaikan masalah ini…
Saya tak habis pikir di tengah himpitan macam ini.
Jika saya, kami, menyerah, apa jadinya si Mbak ini…
Saya kemudian pamit kepada si Mbak dan suaminya yang sudah kayak orang linglung, juga pamitan kepada pihak rumah sakit.
Dalam hati, saya bertekad bahwa esok hari si Mbak harus keluar dengan cara apapun… Hahaha…
Sepanjang malam itu, sampai akhirnya saya tertidur kelelahan, saya terus merancang strategi untuk keesokan hari.
Paginya, saya ke ibukota kabupaten untuk melaporkan hal ini kepada kepala dinas kesehatan kabupaten dan meminta arahannya.
Well, saya pun disemangati dan didoakan.
Tak patah arang, saya kemudian kembali ke kecamatan dan bertemu camat kami.
Saya pun menjelaskan persoalan ini.
Syukur alhamdulillah, pak camat bersedia menalangi untuk sementara sebagian biaya si Mbak dengan dana dari rekening pribadinya.
Dengan uang hasil penggalangan dana dan penjaminan kapasitas diriku sebagai dokter itu, plus dana back-up dari kantong pribadi dan kas puskesmas, saya kembali menempuh rute kemarin.
Kali ini, saya merasa lebih enteng, setidaknya permasalahan ini tidak dipendam di tempat yang jauh, namun segera di wilayah kerja kami sendiri.
Lebih enteng lagi tentu saja, mengingat di kantong saya, baju dan celana, depan dan belakang, penuh dengan uang untuk membelikan si Mbak tiket kebebasannya. Hehehe.
Sampai di rumah sakit itu untuk kedua kalinya, saya berjalan hampir dengan jumawa… Hahaha.
Tidak seperti kemarin yang seolah ingin menjelma sebagai peminta, kali ini saya memiliki cukup “kekuatan”.
Saya pun berterima kasih kepada pihak rumah sakit, karena meskipun mereka ngotot, saya pun memahami alasan mereka bertindak tegas.
Berhasil! Si Mbak akhirnya berhasil kami pindahkan ke rumah sakit kabupaten.
Selain tumor di kandung kemihnya yang masih bercokol, dana talangan untuk menebusnya kemarin pun belum juga tuntas.
Hampir 4 juta rupiah, padahal gaji CPNS-ku belum sampai 1,5 juta. Hahaha…
Sebagai tambahan, saya juga menyempatkan melihat langsung keseharian keluarga si Mas Siomay dan si Mbak beserta dua anaknya (sekarang sudah tiga).
Parah. Payah. Mereka tinggal di lods-lods pasar yang WC saja tidak punya.
Dan dari sinilah ISK si Mbak terus berulang.
Sekalian saja saya mengusulkan kepada pak camat untuk mengalokasikan dana untuk membuatkan toilet umum di pasar kecamatan kami.
Ah, terima kasih Ya Allah…
Engkau telah membantu hamba menyelesaikan separuh tantangan ini. Dan belum selesai, sudah ada lagi tantangan berikutnya…
Mohon pertolonganmu Ya Rabbul Izzati…
Engkau yang menguji kami, Engkau pula yang mengetahui maksud dan alasan mengapa ujian macam ini harus kami lewati…
Saya koq jadi tidak mengerti apa yang sedang Indonesia alami kini ya?
Dari televisi, saya tahu bahwa tahun ini Krakatau Steel sebagai satu BUMN menghasilkan laba bersih ratusan miliar, tapi koq malah dilego kepada pemodal asing sih?
BUMN kan sumber pendapatan negara, yang jika kita kelola sendiri, akan menopang kesejahteraan rakyat untuk jangka waktu yang lama, tapi koq malah diserahkan sebagian atau bahkan seluruhnya kepada pihak asing? Lha, setelah dijual tahun ini, tahun berikutnya rakyat dapat apa?
Apa begini terus ya, polanya berulang tiap tahun? Kalau beberapa tahun ke depan semua BUMN dan sumber daya alam sudah habis dijual, sementara kualitas SDM negeri kita masih rendah, apa yang tersisa untuk rakyat, apa yang tersisa untuk kita?
Tema: Banana Smoothie. Blog pada WordPress.com.