Negeriku, Negerimu, Negeri Kita!

Maret 21, 2008

KEMENANGAN RAKYAT YANG TERTUNDA INI…

Filed under: Politik — smartkoko @ 2:04 am

Akhirnya, kemarin siang (19 Maret 2008 pukul 13.00 WITA), MA secara resmi meralat kekeliruan mereka dalam putusan kasasi sengketa Pilkada Sulsel dan kembali memenangkan hak-hak rakyat Sulsel melalui dikabulkannya permohonan PK oleh KPUD Sulsel secara penuh sekaligus menguatkan keputusan KPUD Sulsel yang memenangkan pasangan Syahrul Yasin Limpo dan Agus Arifin Nu’mang sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Selatan terpilih untuk periode 2008-2013.

Ratusan milyar yang dihamburkan oleh pihak Asmara selama proses sosialisasi, masa kampanye, masa pemilihan, dan proses selanjutnya, terbukti menjadi rezeki nomplok bagi tim pemenangan, partai pendukung, media yang dibanjiri advertisement, tim penasihat hukum, dan tim apapun namanya, namun gagal memenangkannya di hadapan rakyat. Bahkan upaya terakhir mereka kali ini melalui kasasi di MA hanya berhasil membendung hak-hak rakyat selama sekitar empat bulan.

Sekali lagi saya nyatakan bahwa jika ada pihak yang ingin melakukan penelitian di sebuah laboratorium politik yang nyata senyata-nyatanya, maka di propinsi kami inilah tempat yang pas. Disinilah terjadi gabungan institusi raksasa birokrasi, partai politik besar, konglomerasi korporat, bahkan ormas berbasis agama, dikalahkan! Kekalahan simbiosis para raksasa (mungkin analogi kompetisi politik ini seperti pertarungan Daud vs Jalut) itu disebabkan berbagai faktor.

Tentu faktor utamanya adalah kandidat yang diusung para raksasa itu justru kandidat yang sudah tak lagi diinginkan rakyat, rakyat ingin hak-hak mereka, rakyat masih menjaga harapan datangnya kehidupan lebih baik melalui pemimpin baru. Di propinsi inilah segala cara dikerahkan untuk memenangkan kursi 01 Sulsel yang juga notabene pelayan rakyat Sulsel nomor satu. Politik dikotori dan berdarah-darah, penuh intimidasi dan manipulasi, pembunuhan karakter melalui fitnah yang keji, isu agama dijual bahkan terkesan diobral.

Faktor lainnya adalah kekeroposan mesin tempur dan kebocoran dimana-mana dalam struktur yang katanya diklaim menyokong Asmara. Mayoritas pejabat eselon II memang dalam kendali Asmara, tapi pejabat eselon dibawahnya terus menggerogoti. Golkar? Tidak solid. PKS? Konstituennya merasa tidak sreg dengan pilihan elit. PKB? Tong nyaring. Demokrat? Judulnya saja mendukung Asmara, tapi isinya jauh berbeda.

Bone? Kabupaten tempat lahir AS ini ternyata bukan lumbung suara Asmara. Jika kesolidan Gowa mencapai 80% mendukung Syahrul-Agus, maka Bone hanya memberi 70% untuk Asmara. Menurut anggota KPU, suara Asmara sebenarnya cuma sedikit diatas 40% di Bone. Selebihnya (atau semuanya?) adalah hasil intimidasi dan money politic. Ini karena Bone yang masih cukup kuat feodalismenya, mayoritas kaum bangsawannya justru gagal dirangkul Asmara. Kaum bangsawan inilah yang berbalik arah dan “menggempur pertahanan” tim Asmara, sehingga Asmara yang tadinya merasa tenang di Bone justru kelabakan di kandang sendiri sehingga gagal fokus untuk berpenetrasi ke daerah basis kompetitornya.

Golongan tetua tak henti mengkritisi Asmara, sementara mayoritas pemuda dengan militansi tinggi terus menohok struktur penyokongnya. Mayoritas ulama dan akademisi turun gunung karena jenuh terus diusik oleh isu-isu kampanye yang benar-benar tidak mendidik masyarakat (meski ada segelintir orang yang katanya paham agama, tapi membiarkan agama diobral berulang-ulang dihadapannya dalam kampanye Asmara, sekaligus bisu saat ulama mengkritisi bahkan menolak tindakan rendah itu).

Kini semuanya usai (saya harap begitu karena rakyat sudah lelah dan jenuh dengan democrazy yang dijalankan seperti ini). Rakyat akan ingat yang bersama mereka dan siapa pula yang bersatu untuk memanipulasi suara hati nurani mereka. Kami akan ingat pihak yang telah menjual dan mengobral agama kami dan siapa pula ulama lurus yang tampil membela. Kami akan ingat yang jujur dan mengakui kekeliruannya dan siapa pula yang berusaha mengangkangi kebenaran dan menembakkan fitnah demi fitnah. Dan syukur Alhamdulillah kami berhasil bertahan dari segala gempuran itu. Kami masih punya harapan. Kami punya asa mengenai Sulsel yang rakyatnya lebih maju dan sejahtera, lebih berakhlak dan cendekia, lebih sehat dan bermartabat, insyaAllah.

Sekali lagi selamat untuk pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Sulsel terpilih periode 2008-2013, Syahrul Yasin Limpo dan Agus Arifin Nu’mang. Selamat untuk semua pendukung pasangan ini atas kesuksesan mengantarkan kemenangan rakyat. Selamat untuk seluruh rakyat Sulsel (termasuk mereka yang berbeda jalan). Kini saatnya kita sekali lagi menata keutuhan dan kekompakan kita. Maju bersama! Bangkit bersama! Anda, mereka, kita semua, pasti bisa! Bergerak serempak dari masing-masing wilayah dan lingkup kerja kita, medan juang kita masing-masing, mempersembahkan yang terbaik!

Maret 9, 2008

DEMOKRASI MENGUBAH WAJAH RUMPUN RAKYAT MELAYU

Filed under: Politik — smartkoko @ 5:26 am

Demokrasi menjadi pilihan negeri kita, demikian pula negeri jiran kita Malaysia. Meski masih terdapat beberapa negeri lain yang masuk dalam rumpun masyarakat melayu, namun Indonesia dan Malaysia adalah dua negeri yang dari sekian bayak rumpun melayu adalah negeri yang paling luas wilayah dan besar jumlah penduduknya.

Terlepas dari apakah demokrasi atau sistem kenegaraan lainnya yang paling baik (dan yakinlah takkan ada yang sempurna, kecuali kita hanya dapat meminimalisir kekurangan dimana-mana), saya ingin menyorot bagaimana demokrasi telah mengubah wajah masyarakat melayu yang telah dikenal berabad lamanya.

Santun, sopan, lembut hati, lembut tutur bicara (meski ini juga termasuk variabel), sabar, teguh pendirian, jujur, jelas, tidak neko-neko, penuh pengertian, sederhana, dan kuat persatuannya. Itulah gambaran mayoritas rumpun melayu. Dulu, dan juga masih sampai kini. Meski tinggal di daerah tropis, yang hangat (kadang panas) bermandikan matahari. Hati dan kepala tetap sejuk. Tapi, wajah itu sedikit tercoreng kini.

Demonstrasi yang juga suatu elemen demokrasi berlangsung dimana-mana, suara rakyat katanya. Jarang kita dapati, demonstrasi yang santun, akui sajalah. Kebanyakan berakhir ricuh, terprovokasi, diembel-embeli perusakan fasilitas umum. Ada juga sih demonstrasi yang rapi dan terkelola dengan bagus, tapi masih lebih sedikit jumlahnya. Itu corengan pertama yang dapat kita tangkap. Wajah santun berganti berang, meski tidak selamanya, namun makin lama, frekuensinya makin tinggi. Tapi itu adalah dampak, ada pemicunya. Pasti!

Dan pemicunya inilah coreng-moreng kedua. Kecurangan dan manipulasi. Sulit kita pahami jika ada demonstrasi yang muncul spontan. Mustahil ada orang yang mau capek-capek turun berteriak hingga kepayahan, jika tanpa motif yang mendasari. Minimal ada hak yang dilanggar sampai orang-orang itu turun ke jalan demi menyampaikan aspirasi. Jujur berganti manipulasi. Inilah pemicunya.

Kini, kutu loncat pun makin marak bermunculan. Hanya sedikit orang yang akhirnya benar-benar memiliki komitmen. Tidak ada lawan yang abadi, pun sebagaimana kawan. Semua, eh tidak semua ding, tapi hampir semua demi kepentingan individu dan kelompok masing-masing. Akibatnya persatuan dan persaudaraan kita semakin rentan. Kalau dulu ulama ya ulama, cendekia ya cendekia, panglima ya panglima, penjahat ya penjahat, dan pada titik tertentu mereka “saling menghormati” jalan hidup pilihan masing-masing, tapi kini batas antara baik dan benar semakin kabur, seiring jatuhnya kehormatan dan harga diri kita.

Itulah efek samping yang harus kita tanggung karena pilihan berdemokrasi. Memang masih ada orang yang mampu memakai akal sehat dengan nurani yang hidup, namun jika dibiarkan begini saja, maka pilihan kita ini justru akan merusak masyarakat kita, keseluruhan sistemnya. Perbaikilah. Demokrasi yang menempatkan kepentingan dan kesejahteraan rakyat. Demokrasi yang tidak mencampuradukkan agama sekaligus mampu membawa harmoni tiap komponennya. Demokrasi yang mempersatukan dan bukannya yang makin mengkotak-kotakkan. Demokrasi yang tidak memisahkan ajaran agama dari negara, sebaliknya justru mampu mewujudkan simbiosis mutualisme antara keduanya.

Maret 2, 2008

DEBAT POLITIK VIA SMS

Filed under: Politik — smartkoko @ 7:16 am

Beberapa hari yang lalu saya sempat membaca sebuah berita di koran bahwa hakim-hakim Mahkamah Konstitusi kadang-kadang melakukan “rapat” via teknologi pesan singkat. Kalau begitu sama dong! Sama dengan saya dan beberapa orang teman yang kadang berdiskusi, berdebat masalah politik, bahkan tak jarang lebih dari itu, semuanya dilakukan via SMS.

Hahaha. Buat saya SMS ini adalah satu dari beragam cara untuk mengurangi ledakan energi yang mengiringi perkataan kita. Berbicara secara langsung pastinya memerlukan kepiawaian dan kehati-hatian lebih dalam berkata-kata dan menerima kata-kata orang, karena kita langsung menerima impact dari kata-kata itu. Medium berupa udara menghantarkan suara kita dengan kecepatan yang sangat tinggi, untuk kemudian diterima dan diolah oleh otak kita dengan kecepatan yang lebih tinggi lagi. Begitu responsif! Dan tak banyak orang, dalam tiap kesempatan, mampu mengelola dengan baik impact dari impuls tersebut, apalagi jika yang dibahas adalah hal-hal yang sensitif.

Maka disanalah peran dari teknologi SMS itu. Dengannya, kita dapat saling berkata-kata, namun juga memiliki kesempatan untuk meredam impact dari suatu perkataan sehingga mampu menerimanya sekaligus memberi respon yang lebih tertata. Pesan tersampaikan, namun lebih terkontrol. Bahkan untuk isu yang sensitif. Kita memiliki jeda waktu dari penerimaan SMS tersebut, waktu kita membacanya, dan juga mengetik SMS balasan untuk menanggapinya. Ada waktu lebih longgar untuk kita memikirkan sebuah informasi yang kita terima, apalagi disaat kita tak punya pulsa, hahaha.

Kadang hal seperti itu diperlukan memang, namun pada kesempatan lain kita juga harus memiliki kemampuan kontrol untuk pembicaraan langsung. Iya kan?! Hati-hati dengan kata-kata… Oops…

Februari 13, 2008

Dukung Obama!

Filed under: Politik — smartkoko @ 5:14 am

Amerika Serikat memang masih begitu berpengaruh di dunia ini. Dan rakyat dunia (bersama rakyat Amerika Serikat) ingin perubahan dan harapan baru akan dunia yang lebih baik dapat segera terwujud.

Yes, We Can!

Democrazy?? Masa’ sampai mati sih?!

Filed under: Politik — smartkoko @ 5:03 am

    Saya menjadi begitu berang karena mendengar kabar bahwa di kampung halamanku yaitu di kabupaten Bone, propinsi Sulawesi Selatan, yang sedang menggelar hajatan rakyat berupa Pilkada langsung, sudah jatuh korban jiwa akibat ditikam.

   Tidak, kali ini saya tidak pro siapa-siapa. Berhubung semua kandidat bupatinya adalah keluarga saya (meski ada yang tidak berlaku seperti keluarga dan sampai main dukun untuk membalas dan mengintimidasi orang-orang yang tidak mendukung apalagi menentang mereka). Saya pro-perubahan dan percepatan perbaikan sajalah. Namun sudah jelas bahwa saya tidak senang dan tidak setuju dengan kultur birokrasi yang nuansa korupsi, kolusi, dan nepotisme negatifnya begitu kental.

    Kembali pada korban penikaman itu. Sungguh, mengapa mesti sampai seperti itu ya? Apakah elit-elit politik, termasuk raja-raja daerah yang seolah mendapat berkah otonomi daerah dan desentralisasi untuk kembali menancapkan pengaruhnya, apakah mereka menyadari posisi mereka yang seharusnya menjadi pengayom masyarakat? Bukannya peng-kooptasi rakyat?

    Jika kita telah berjanji bahwa demokrasi ini dilangsungkan demi kepentingan rakyat, lantas mengapa yang nyata-nyata disuguhkan adalah pembodohan rakyat, pengorbanan rakyat? Rakyat yang mana kalau begitu yang dimaksudkan? Apakah sekedar istri pejabat, anak mereka, adik-adik mereka termasuk iparnya? Sungguh sedih dan miris hati ini… Segelintir rakyat yang terpuaskan (atau malah tidak pernah puas???) sementara sebagian besar yang lain tidak lagi mengetahui kemana hak-hak mereka, atau bahkan mungkin mereka memiliki hak itu atau tidak-pun mereka tidak pernah tahu.

    Hare gene??? Maaf, para pembaca… Saya masih saja menuangkan emosi dan kegalauan saya kedalam tulisan ini. Mengapa mesti rakyat sampai ada yang mati demi demokrasi ini? Demi apa mereka harus tersungkur? Demi apa dan demi siapa rakyatku harus tersia-sia? Ataukah memang keanehan di negeriku ini belum juga usai? Saya benar-benar tidak habis pikir… Hahaha… Uggghhhhhhh…

Tema: Banana Smoothie. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.