Akhirnya, kemarin siang (19 Maret 2008 pukul 13.00 WITA), MA secara resmi meralat kekeliruan mereka dalam putusan kasasi sengketa Pilkada Sulsel dan kembali memenangkan hak-hak rakyat Sulsel melalui dikabulkannya permohonan PK oleh KPUD Sulsel secara penuh sekaligus menguatkan keputusan KPUD Sulsel yang memenangkan pasangan Syahrul Yasin Limpo dan Agus Arifin Nu’mang sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Selatan terpilih untuk periode 2008-2013.
Ratusan milyar yang dihamburkan oleh pihak Asmara selama proses sosialisasi, masa kampanye, masa pemilihan, dan proses selanjutnya, terbukti menjadi rezeki nomplok bagi tim pemenangan, partai pendukung, media yang dibanjiri advertisement, tim penasihat hukum, dan tim apapun namanya, namun gagal memenangkannya di hadapan rakyat. Bahkan upaya terakhir mereka kali ini melalui kasasi di MA hanya berhasil membendung hak-hak rakyat selama sekitar empat bulan.
Sekali lagi saya nyatakan bahwa jika ada pihak yang ingin melakukan penelitian di sebuah laboratorium politik yang nyata senyata-nyatanya, maka di propinsi kami inilah tempat yang pas. Disinilah terjadi gabungan institusi raksasa birokrasi, partai politik besar, konglomerasi korporat, bahkan ormas berbasis agama, dikalahkan! Kekalahan simbiosis para raksasa (mungkin analogi kompetisi politik ini seperti pertarungan Daud vs Jalut) itu disebabkan berbagai faktor.
Tentu faktor utamanya adalah kandidat yang diusung para raksasa itu justru kandidat yang sudah tak lagi diinginkan rakyat, rakyat ingin hak-hak mereka, rakyat masih menjaga harapan datangnya kehidupan lebih baik melalui pemimpin baru. Di propinsi inilah segala cara dikerahkan untuk memenangkan kursi 01 Sulsel yang juga notabene pelayan rakyat Sulsel nomor satu. Politik dikotori dan berdarah-darah, penuh intimidasi dan manipulasi, pembunuhan karakter melalui fitnah yang keji, isu agama dijual bahkan terkesan diobral.
Faktor lainnya adalah kekeroposan mesin tempur dan kebocoran dimana-mana dalam struktur yang katanya diklaim menyokong Asmara. Mayoritas pejabat eselon II memang dalam kendali Asmara, tapi pejabat eselon dibawahnya terus menggerogoti. Golkar? Tidak solid. PKS? Konstituennya merasa tidak sreg dengan pilihan elit. PKB? Tong nyaring. Demokrat? Judulnya saja mendukung Asmara, tapi isinya jauh berbeda.
Bone? Kabupaten tempat lahir AS ini ternyata bukan lumbung suara Asmara. Jika kesolidan Gowa mencapai 80% mendukung Syahrul-Agus, maka Bone hanya memberi 70% untuk Asmara. Menurut anggota KPU, suara Asmara sebenarnya cuma sedikit diatas 40% di Bone. Selebihnya (atau semuanya?) adalah hasil intimidasi dan money politic. Ini karena Bone yang masih cukup kuat feodalismenya, mayoritas kaum bangsawannya justru gagal dirangkul Asmara. Kaum bangsawan inilah yang berbalik arah dan “menggempur pertahanan” tim Asmara, sehingga Asmara yang tadinya merasa tenang di Bone justru kelabakan di kandang sendiri sehingga gagal fokus untuk berpenetrasi ke daerah basis kompetitornya.
Golongan tetua tak henti mengkritisi Asmara, sementara mayoritas pemuda dengan militansi tinggi terus menohok struktur penyokongnya. Mayoritas ulama dan akademisi turun gunung karena jenuh terus diusik oleh isu-isu kampanye yang benar-benar tidak mendidik masyarakat (meski ada segelintir orang yang katanya paham agama, tapi membiarkan agama diobral berulang-ulang dihadapannya dalam kampanye Asmara, sekaligus bisu saat ulama mengkritisi bahkan menolak tindakan rendah itu).
Kini semuanya usai (saya harap begitu karena rakyat sudah lelah dan jenuh dengan democrazy yang dijalankan seperti ini). Rakyat akan ingat yang bersama mereka dan siapa pula yang bersatu untuk memanipulasi suara hati nurani mereka. Kami akan ingat pihak yang telah menjual dan mengobral agama kami dan siapa pula ulama lurus yang tampil membela. Kami akan ingat yang jujur dan mengakui kekeliruannya dan siapa pula yang berusaha mengangkangi kebenaran dan menembakkan fitnah demi fitnah. Dan syukur Alhamdulillah kami berhasil bertahan dari segala gempuran itu. Kami masih punya harapan. Kami punya asa mengenai Sulsel yang rakyatnya lebih maju dan sejahtera, lebih berakhlak dan cendekia, lebih sehat dan bermartabat, insyaAllah.
Sekali lagi selamat untuk pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Sulsel terpilih periode 2008-2013, Syahrul Yasin Limpo dan Agus Arifin Nu’mang. Selamat untuk semua pendukung pasangan ini atas kesuksesan mengantarkan kemenangan rakyat. Selamat untuk seluruh rakyat Sulsel (termasuk mereka yang berbeda jalan). Kini saatnya kita sekali lagi menata keutuhan dan kekompakan kita. Maju bersama! Bangkit bersama! Anda, mereka, kita semua, pasti bisa! Bergerak serempak dari masing-masing wilayah dan lingkup kerja kita, medan juang kita masing-masing, mempersembahkan yang terbaik!