Sejak saat saya menaiki angkot itu maka si bayi yang tak sempat saya ketahui namanya sebentar-sebentar melirik dan menatapku. Saya asumsikan usianya sekitar enam bulan dan itu adalah pandangan yang penuh rasa ingin tahu. Dan perasaan pertama yang muncul padaku adalah percikan narsisisme… Yak! “Gahar pisan euy…” Hahaha. Apalagi sejam sebelumnya saya baru saja ke tukang cukur favorit saya (diungkap dalam tulisan sebelumnya) untuk memenuhi jadwal merapikan rambut bulanan di hari jum’at sesuai sunnah nabi plus pijatan yang mana kombinasi keduanya selalu saja membuatku segar. Jadi, kesimpulannya si bayi yang saya asumsikan sendiri adalah “benar bahwa cowok dihadapan saya ini adalah cakep dan gagah perkasa”. Wahahaha. Alhamdulillah…
Usia segitu si bayi memang sudah bisa menangkap pesan dari impuls cahaya dan geometri yang ditangkap melalui indera penglihatannya. Kukibaskan tanganku agar ia yang hanya sesekali menoleh ke arah lain berhenti memandangiku, namun upaya itu gagal. Kumainkan tangannya, kucolek pipinya, dan ia terus menatapku. Maka semakin narsis pulalah aku. Ibunya, dan beberapa penumpang lain pun melihat aksi tatapan yang menelisik dalam itu. Dengan segera, saya memecah dan mengembangkan pikiran yang tadinya sedang dibungkus narsisisme menjadi pikiran analitik yang saling silih berganti.
Kompilasi simpulan turunan pertamaku adalah hal-hal yang bersifat negatif, dan dengan cepat pula saya abaikan sekaligus berdoa agar jangan sampai saya seperti itu. Berikut sebagian diantaranya, “wah, ini lelaki harus diwaspadai, jangan-jangan dia komplotan penculik anak!”, atau “aduh, koq aku bisa satu angkot sama cowok narsis ini sih”, atau “kayak-kayaknya pernah ketemu dimana atau lihat dimana begitu lagi disorot karena skandal apa begitu”, atau “ih, ini pria nge-pop en nyante banget sih, dibilang mau kuliah ga’ juga, mau ngantor juga ngga’, mau dugem ih jauh, apa jgn-jgn lg bolos kuliah ya?”. Hahaha. Jangan sampai seperti itu ya dek!
Nah kompilasi turunan kedua adalah yang positif dan membangun (duilee…). Dan inilah dia! Wahahaha, belum dituangkan saja saya sudah cekikikan sendiri jadinya, tapi semoga inilah yang terjadi nanti. “Wah, kayaknya ini pria yang cerdas dan bertanggung jawab, pasti istri dan keluarganya bahagia deh”, dan “Hmmm, koq di angkot ini ada aura pemimpin besar ya? Apa dari cowok ini ya? Tipikal pelindung rakyat”, dan “naga-naganya gue ngerasa kalo lelaki dihadapanku ini benar-benar bikin perasaan aman dan nyaman bagi lingkungan sekitarnya”. Nah kan? Itu baru sebagian lho! Hehehe.
Eit, jangan marah ya pemirsa! Tanpa bermaksud mendahului si baby yang punya hak melihat, semuanya saya asumsikan sendiri koq! Yang negatif saya abaikan dan buang jauh-jauh. Sementara yang positif, saya berdoa agar itulah takdir yang disediakan Allah untukku kelak dan juga sejak saat ini. Jujur saja, semua itu masih jauh dari diriku yang sekarang, tapi harapan untuk mencapainya harus terus dipelihara kan?
Menjelang saya turun dari angkot karena tujuanku sudah makin dekat dan si baby masih juga memandangiku, maka saya mencoba menggunakan sedikit teknologi (dan masih juga gagal!). Saya mengeluarkan ponsel dan memotret wajahnya yang sedang melongo itu. Hasilnya kuperlihatkan pada si baby, tapi ia hanya terganggu sekilas, lantas melihatku kembali. What a great focus and concentration! Saya belajar satu lagi kini. Jika si baby memiliki daya fokus dan konsentrasi setinggi itu, maka mengapa saya tidak! Saya pun pasti bisa. Kita semua pasti bisa. Dan dengan kemampuan fokus seluruh negeri dalam hal-hal positif, maka kita pasti bisa bangkit dan menjadi masyarakat terdepan di dunia ini!
Well, saatnya berpisah dengan si bayi. Kugamit tangan kecilnya untuk salam berpisah, dan juga salam kepada penumpang lainnya. Mariki’di’. Turun dari angkot, bayar ke pak sopir sembari mengucapkan terima kasih. Kemudian melangkah dengan ringan, sambil tetap membawa sedikit sisa dari narsisisme yang membuncah. Hahaha…