Negeriku, Negerimu, Negeri Kita!

November 23, 2008

menunda vs menyegerakan

Filed under: Celetukan, Kumandangku... — Tag: — smartkoko @ 5:39 am
azan dhuhur sudah berkumandang. sholatnya sudah atau belum nih?
inilah salah satu penyakit kronis, termasuk saya sendiri adalah pengidapnya.
senang menunda melaksanakan hal-hal yang baik. padahal makin ditunda, makin malas jadinya, makin ogah-ogahan.
ayo, kita atasi penyakit yang satu ini. mari menyegerakan diri dalam berbuat baik.
tetap semangat anak muda! Allahu Akbar!

Juli 22, 2008

JPS di Praktik Sore

Filed under: Celetukan — smartkoko @ 4:47 pm

Serampai Dokter Puskesmas (01)

Seorang pasien di puskesmas pernah menanyakan mengapa ia tak diajak ke praktik sore sang dokter. Pasien ini sebenarnya menginginkan obat-obatan yang lebih mumpuni, lebih ampuh, demi kesembuhan penyakit yang ia derita.

Sang dokter menjawab kira-kira begini dalam bahasa yang baku (aslinya dalam bahasa daerah), “Pak, maafkan saya, namun saya tak kunjung menganjurkan bapak ke praktik sore saya karena saya sebenarnya khawatir. Khawatir lebih membebani bapak lagi. Di puskesmas, bapak bisa mengandalkan SKTM, Askeskin, JPS, Jamkesmas, atau maksimal Askes, atau apapun namanya. Saya akan memberikan hak bapak sesuai klausul program-program itu sebagai bagian dari tugas saya sebagai abdi negara dan abdi rakyat. Namun, akan lain ceritanya jika bapak datang ke praktik sore saya.”

Kasarnya sih, sang dokter tak menganjurkan si pasien ke praktik sore dan tetap menggunakan sarana puskesmas yang terbatas selama ia tetap mengandalkan program talangan pemerintah dalam bidang kesehatan. Takutnya, si pasien tidak bisa bayar! Atau malah menganggap di praktik sore dokternya dia bisa ngandelin SKTM… Hahaha…

Maret 22, 2008

Berenang Lagi, Diselingi Jalangkote! Nyam-nyam!

Filed under: Celetukan — smartkoko @ 3:38 am

“Jika ingin mengubah sesuatu, dan ingin tidak terlalu banyak resistensi, maka masuklah kedalamnya. Jika ingin melakukan sesuatu, maka lakukan dengan kebulatan tekad sambil memohon kemudahan kepada Allah.” Itu yang saya sempat ingat kembali hari ini saat berenang sore tadi dan ini semakin membuat hatiku mantap dalam jalan yang telah kupilih.

Terima kasih khusus kembali kusampaikan untuk teman yang membantu menyingkirkan rasa takut sehingga mampu mengembangkan kemampuan fisikku di air. Dari yang hanya berani di pinggir kolam bahkan sampai hampir tallang (tenggelam), kini sudah bisa muter-muter dalam air, dari sudut satu ke sudut lainnya.

Hari jumat ini masih merupakan tanggal merah di kalender. Saya memutuskan untuk tidak kehilangan kemampuan “berenang dasar” atau yang disebut oleh seseorang yang sama sederhana kemampuan renangnya denganku sebagai “berenang kampung” di kolam tadi sore. Kecipak-kecipuk. Hehehe.

Untungnya saya masih bisa kecipak-kecipuk, meski sudah beberapa bulan ini tidak melakukannya. Setelah satu jam, ada organ tubuh yang berbunyi karena minta diisi. Entah itu lapar betulan karena kalori tubuhku sedang dibakar cukup banyak, atau lapar psikis karena mbak-mbak dan mas-mas pelayan hotel hilir mudik didepanku sambil membawa nampan yang padat berisi. Hahaha. Maka jadilah tiga jalangkote menjadi selingan dalam sesi berenangku sore tadi. Alhamdulillah jalangkotenya enak dan hangat. Satu jalangkote ditukar dengan satu sesi renang delapan lap. Lumayanlah.

Setelah bahan bakar jalangkote-nya berakhir, maka acara renangnya pun masuk sesi penutupan. Setelah kecipak-kecipuk, saatnya cibang-cibung (mandi). Saat mandi itulah baru kusadari bahwa kulitku kembali memerah, seperti kulit kepiting rebus, padahal sinar mataharinya tidak tergolong terik lho! Tapi, tak apa-apalah. Yang penting dapat semangat baru lagi, semakin mantap jiwa ini, juga sehat dan bahagia. Sebagai wujud syukur, maka sopir angkot yang mengantarku pun kebagian bonus. Hehehe. Itu juga karena dia berkomitmen dan bahagia dalam melaksanakan tugasnya. Ah, satu ilmu lagi. Terima kasih, Ya Rabb…

Maret 21, 2008

Koq Lagu Cinta Itu Rasa-rasanya Nyambung Ya???

Filed under: Celetukan — smartkoko @ 2:06 am

Lagu-lagu yang sempat saya dengar itu berkisah tentang hubungan cinta antara pria dan wanita. Tapi makin lama, koq rasanya makin klop ya? (Kenapa yaaa…???) Apakah kisah hidupku yang menginspirasi musisi di seluruh dunia untuk membuat lagu? (Wow! Narcissus! Super-Hyper-Ultra-Extreme-Narcissus!) Atau lagu-lagu itu didasari latar belakang hubungan cinta antar manusia yang pada dasarnya sama saja dimanapun dan kapanpun sejak dahulu kala hingga akhir zaman nanti? (Hubungan antara premis). Atau… ah begitu sajalah… (saya nikmati dulu hasil karya musisi ini sebelum lanjut).

Beginilah rasanya jika… (hahaha… boleh jadi saya baru akan berani menceritakan detilnya beberapa tahun ke depan, tapi tunggu, mungkin lebih ekspresif jika memakai huruf kapital, HAHAHA! HAHAHA!). “Ah, Ya Allah, hambaMu ini tidak pernah ada judul pacaran dalam hidupnya sampai saat ini, tapi koq soal ujian hidup untuk aspek “pasangan hidup yang nantinya lebih dekat dari kedua sahabat dan puluhan teman dekat serta ribuan teman diluar sana”, sepertinya seluruh modalitas yang dikaruniakan padaku belum jua mampu memecahkan soalan ini…. Mengapa Ya Rabb… Tolonglah hamba dalam urusan semacam ini juga…”

It’s complicated! Pelik. Rumit. Kompleks. Sebenarnya, boleh jadi tak ada pihak manapun yang menginginkan sebuah persoalan menjadi begitu berlarut-larutnya, sampai-sampai tak lagi jelas inti persoalannya, tidak juga saya. Tapi, boleh jadi semua kondisi yang semrawut ini disebabkan ke-kurang-piawai-an pihak-pihak yang terlibat dalam mengelola masalah. Bahkan ada teman dekatku yang mungkin jika ia membaca tulisan ini bakal greget bukan main, karena berulang kali ia mengingatkanku untuk menyampaikan pesan-pesan cinta dengan bahasa yang lugas lagi gamblang, bukannya dengan bahasa melangit dan bersayap seperti kebiasaanku (itu katanya lho!).

Bahkan saat saya menyelesaikan tulisan ini (atau tepatnya mencoba menyelesaikan), saya senyum-senyum sendiri didepan komputerku, bingung mau menutupnya dengan kata-kata yang bagaimana. Kemana IQ-ku yang sering kuagung-agungkan? Dimana modalitas kecerdasan lainnya saat saya butuhkan untuk menghadapi persoalan L.O.V.E.? Saya perlu mereka sekarang, tapi mereka seolah bersembunyi dibalik perlindungan harga diri yang begitu tinggi yang sedang bersaing dengan ego diseberang sana. Fiuuuhhh…

Maret 7, 2008

Baby di Angkot

Filed under: Celetukan — smartkoko @ 3:08 am

Dalam angkot itu kami bersua…

Si baby mungil imut-imut bala-bala itu sebentar-sebentar memandangiku. Maka sebagai kompensasinya, dalam sekejap wajahnya sudah terekam dalam ponselku. Wahahaha…

Sanro Gaul?

Filed under: Celetukan — smartkoko @ 3:03 am

Sanro Gaul?

Mau gaul kek, mau canggih kek, ya jangan masyarakatkan perdukunan dong!

1 : 1,6

Filed under: Celetukan — smartkoko @ 3:00 am

Venus de Milo, patung Yunani, serba rasio 1 : 1,6. Piramida Giza Mesir pun rasionya sama. Koq bisa begitu ya? Apa rahasia dibaliknya ya?

Tulisanku Dibajak!

Filed under: Celetukan — smartkoko @ 2:53 am

Lagi kesal! Tapi tak seberapa, semoga cepat reda, hehehe. Kemarin saya sempat membaca artikel di sebuah koran. Tapi koq? Eh? Rasa-rasanya artikel ini mirip dengan tulisan yang saya kenal, yaitu tulisan saya sendiri! Alurnya, retorikanya, titik fokus refleksinya, ah saya rasanya tidak asing. Tulisan ini saya posting dihari sebelumnya lagi di internet, melalui e-mail dan blog-blog saya. Mestinya senang ya.. Wong, tulisan kita dimuat.. Tapi, yang bikin kesal karena karya saya itu (saya merasakan, tapi untuk membuktikan dan melakukan investigasi lebih lanjut, malas..) dirombak! Kata-katanya diganti dengan sinonimnya. Akibatnya, artikel itu compang-camping! Itu dia yang bikin kesal. Okelah karya itu memang saya buat untuk konsumsi publik, tidak ada paten-patenan, itu hadiah saya untuk masyarakat dan negeri ini, tapi.. Ya, minimal ada etikanya, meski sedikit. Minimal dikabari atau mohon izin. Tapi, ya sudahlah.. Mungkin ini juga penebus dosa. Soalnya bisa jadi saya juga begitu kali’ ya? Hahaha..

Maret 5, 2008

Double Bullet…zzz

Filed under: Celetukan — smartkoko @ 5:38 am

Bulletz (1)

“Masalah di negeri kita ini sudah begitu banyak, berderet-deret menanti penyelesaian. Rakyat sudah hampir jenuh dengan kompilasi janji-janji karena yang mereka, termasuk kita, perlukan adalah orang yang berkomitmen mengusung perbaikan. Dari diri sendiri, dari lingkup sesederhana apapun, dan sejak saat ini. Tayangan OWS (Oprah, si ratu talkshow) kemarin mengingatkanku untuk kembali meluruskan niat dan memantapkan langkah untuk menjadi yang terbaik. Berpikir dan bertindak demi kesejahteraan (dan kesehatan) masyarakat, sebagai bentuk ibadah dihadapan Rabb-ku…”

Bulletz (2)

“Sore kemarin ayahku terlihat sibuk sepulang dari tugas dinasnya. Setelah kuperhatikan ternyata mobil yang dihadiahkannya padaku, meski secara praktis sudah dikontrak oleh beliau untuk dijadikan kendaraan dinasnya, ada lecet sedikit. Katanya lecet itu karena ada dua pengendara motor sedang bergurau yang juga sambil berkendara disampingnya, tiba-tiba kedua motor itu bersinggungan plus jatuh. Saat jatuhnya itulah motor kemudian ikut memakan korban yaitu mobilku. Ayahku hanya bilang “Apa karena tadi tidak bayar parkir ya?”, hahaha.

Ya, boleh jadi begitu. Saya percaya bahwa hidup manusia terkait satu dengan yang lainnya, tidak hanya sekedar kaitan, namun lebih dari itu, sebuah ikatan yang kuat. Ada timbang-terima, ada kompensasi dan pencapaian titik keadilan, apa yang kita usahakan maka itulah yang kita dapatkan, dan apa yang kita yakini maka itulah yang menghampiri. Dan itu semua senantiasa ada dalam kehendak Allah SWT. Minimal dengan kejadian ini, saya belajar untuk lebih berhati-hati agar tak melanggar hak orang lain, termasuk lupa bayar parkir. Hehehe… ”

Maret 3, 2008

SUDAH EXERCISE, MAKAN DUREN, NYAM-NYAM… HAHAHA…

Filed under: Celetukan — smartkoko @ 4:16 am

Jujur saja saya adalah seorang penggemar berat buah yang namanya durian itu, meskipun saya baru saja pulih dari tantangan bertajuk ulkus peptik. Durian apa saja, selama tidak busuk, jadilah santapan pelepas stresku (tolong bagi yang paham, apakah memang durian memiliki zat pengurang stres seperti endorfin atau itu sekedar efek plasebo dan sugesti yang membuatku nyaman?).

Apalagi durian yang ranum di pohon, daging buahnya tebal dan legit, bijinya kecil (saking kecilnya sampai-sampai tak perlu diperhitungkan dalam momen menyantap durian itu… hahaha, dasar malas!), kulitnya tak berduri (lah, salah, kalau begini mah bukan durian lagi namanya!), dan gratis!

Wahahaha… Duh, senangnya, surga dunia tuh, ketika semua keadaan itu terkompilasi… Akan lebih sedap lagi jika menikmati durian ditemani siaran radio kesayanganku semacam SMART FM, atau musik instrumentalia, dibawah bayangan pohon dengan hembusan angin sepoi-sepoi.

Dan kali ini (kemarin siang, red.) kondisi itu terwujud (kecuali gratisnya)! Benar-benar nikmat! Namun entah kenapa kali ini, durian itu bahkan lebih lezat dari biasanya. Durian pertama, dagingnya seperti kue… (apa ya…). Dan durian kedua, dagingnya seperti jus yang ditempelkan lagi satu demi satu melekat ke bijinya. Nyamanna sambalu’!

Apa karena saya makan durian itu setelah olahraga sekitar satu jam? Atau karena duriannya dibeli bukan dengan uang hasil korupsi? Atau karena saya berhasil menawar durian itu, yang mana duriannya tergolong lumayan, dapat dua, dengan harga tujuh belas ribu rupiah, pas dengan uang didompet (saking pasnya, memang saya tinggal bawa uang tujuh belas ribu itu, hahaha!)? Atau memang indera pengecap dan penghiduku yang semakin peka terhadap molekul-molekul durian?

Well, apapun, bagaimanapun, saya harus bersyukur dengan karunia Allah itu. Semoga karunia menikmati durian itu akan segera berulang lagi… Dalam tempo yang sesingkat-singkatnya… Makassar, 3 Maret 2008… Koko Takdir Haruni… Hahaha!

Tema: Banana Smoothie. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.