Negeriku, Negerimu, Negeri Kita!

Maret 12, 2008

Sapaan Seorang Teman

Filed under: Budaya — smartkoko @ 1:52 pm

Sore kemarin ada pemuda yang menegur saya. Berhubung saya rasanya belum mengenal pemuda itu, jadi saya sekedar membalas singkat plus senyum simpul sambil lalu. Sesampainya di rumah, sambil berbaring saya masih memikirkan soal pemuda tadi. Boleh jadi memang kami kenal atau pernah berinteraksi dengannya. Keluarga? Ah, rasanya bukan. Kerabat? Belum tahu. Teman lama? Mungkin. Namun ada opsi yang lebih mungkin lagi, tempat dimana banyak orang bertemu, namun tidak seakrab di dunia nyata. Ya! Teman dunia maya semacam friendster, adalah kemungkinan paling besar yang dapat kupikirkan.

Ah, maafkanlah saya jika sampai lalai dalam persoalan ini. Menyapa teman-temanku yang telah memberikan sumbangsih positif mereka dalam perjalanan hidup ini, teman-teman sejak masa bayi, balita, TK, SD, SMP, SMU, kuliah, les, teman di kendaraan umum, teman di tempat makan, teman di tempat belanja, teman di tempat olahraga dan dimanapun saya pernah menjalin jejaring pertemanan. (NB : Begini inikah risiko menjadi orang populer? Hahaha…)

Februari 15, 2008

Buruan cium gue, quickie express, kawin kontrak, extra large, dst…

Filed under: Budaya — smartkoko @ 3:36 am

Setelah ini apa lagi? Tripleks Indonesia, Mesum-mesum malam-malam, Buruan perkosa, Perawan Vs Perjaka, Om Senang Tante Girang, Germo Bromocurah,… Najis! Film buatan Indonesia tambah lama tambah ngawur. Temanya memang berganti dari yang mistik bin takhayul bin khurafat ke porno bin vulgar bin xxx. Pedomannya tetap sama : menjual apa saja yang penting menguntungkan produser, tidak peduli masyarakat dapat tuntunan ke surga atau malah terjebak dalam neraka, dunia dan akhirat!

 

Tayangan yang memberi tuntunan ke jalan yang benar, tontonan yang mendidik dan menginspirasi kemajuan masyarakat dalam hal-hal positif bisa dibilang lebih kecil porsinya ketimbang tayangan menyesatkan lagi meresahkan. Meski diprotes, produser malah kembali dengan kekuatan dan kegilaan yang lebih besar lagi melalui film demi filmnya yang makin lama makin seronok, makin hemat biaya kostum (karena artisnya lama-lama hanya perlu modal pakaian dalam).

 

Belum lagi segala judul goyangan itu! Goyang ngeborlah, goyang patah-patah, goyang paku bumi, goyang pinggul patah, goyang pantat bebek, goyang lemak tinja, uek! Benar-benar tayangan ga’mutu!

 

Ada apa ini? Sengaja mau merusak akhlak dan moral masyarakat? Indonesia memang bukan negara agama, tapi rakyatnya masih beragama, cing! Akhlak dan moralnya masih keukeuh, namun kemudian media massa datang membawa konten-konten sesat lagi menyesatkan, yang katanya modern karena diadopsi dari Barat (Barat yang mana ya?). Padahal, yang makelarnya katakan tentang barang modern dari Barat itu, malah sudah dibuang terlebih dulu dalam keranjang sampah oleh empunya di Barat sono!

 

Di Barat sana, sekarang ini, yang laku, yang ratingnya tinggi tuh macam Oprah Winfrey Show, David Letterman Show, tayangan berita, edukasi, motivasi. Kita? Indonesia? Malah kebagian sampahnya doang. Ampuuun.. ampun..

Benteng terakhir bernama LSF (yang juga mudah dikoyak seperti kertas lusuh)

Filed under: Budaya — smartkoko @ 3:35 am

Pekan lalu saya membaca berita mengenai unjuk rasa sebagian insan film dan sinetron di tanah air yang mengajukan protes atas keberadaan Lembaga Sensor Film dan menuntut digantinya peran LSF oleh lembaga baru yang menjalankan fungsi klasifikasi film, yang menurut mereka akan membagi film dan tayangan media itu kedalam kelas-kelas menurut usia penonton yang layak menyaksikannya.

 

Mereka kesal karena LSF seolah menjadi lembaga otoriter yang dapat memutuskan tayangan ini boleh, yang itu tidak boleh, yang anu harus dipotong adegan ininya, yang itu harus dihapus dialog anunya, dan seterusnya. Akibatnya, kata insan film yang protes itu lagi, “pesan” (pesan pembakar nafsu birahi dan pesan perusak akhlak maksudnya???) yang ingin mereka sampaikan dalam karyanya tidak sepenuhnya sampai kepada pemirsa. Sudah capek-capek berakting (beradegan mesum maksudnya???), eh malah dipotong LSF.

 

Mereka, yang protes itu, sepertinya lupa atau memang sengaja ingin merusak tatanan kehidupan masyarakat kita yang dahulunya begitu kuat ditopang oleh akhlak dan moral yang diajarkan agama dan adat-istiadat negeri kita. Buat saya, peran LSF itu sendiri sebenarnya sudah sangat lemah sebagai benteng masyarakat dari tayangan-tayangan yang meninggalkan jati diri bangsa dan lebih condong kepada gaya hidup hedonis (plus kapitalis plus liberal plus sekuler).

 

Alih-alih diganti menjadi lembaga klasifikasi film, saya mengusulkan agar setiap insan perfilman, mulai dari produser, sutradara, kru, dan artis-artisnya perlu disertifikasi terlebih dulu setelah mendapat penataran dan bimbingan akhlak dari para ulama dan cerdik cendekia agar tayangan yang mereka buat itu mendidik masyarakat dan bukannya menjerumuskan kami ini kepada kemaksiatan. Atau saya bisa saja mendukung lembaga klasifikasi tayangan, yang menjelaskan mana tayangan yang halal dan mana yang haram.

 

Lewat tulisan ini pula saya ingin mematahkan argumen mereka yang ingin ada lembaga klasifikasi film. Mereka ingin ada klasifikasi film dan tayangan untuk anak-anak, remaja, dewasa, segala usia, dan seterusnya. Kedengarannya sih bagus ya. Mereka berteori, tayangan yang ada adegan mesumnya bisa diklasifikasi dan dibatasi untuk orang dewasa. Sementara yang kartun buat anak-anak. Tapi, praktiknya di masyarakat selama ini jauh panggang dari api kan?

 

Bagaimana kalau kartunnya disisipkan kartun beradegan porno? Dialognya diisi kata-kata jorok? Lantas, apa dengan memandang usia diatas 25 tahun misalnya, masyarakat dilegalkan nonton adegan mesum beramai-ramai? Bukannya itu membuka pintu neraka dunia dan akhirat? Pelacuran bakal makin marak, sementara disisi lain ada yang berteriak emansipasi dan penyetaraan gender, apalagi ada pihak yang merutuki poligami, padahal itu dapat menjadi solusi. Belum lagi penyakit yang menular akibat aktivitas seks bebas itu. HIV-AIDS? Gonore? Herpes? DeeLeL? Siapa yang mau tanggung dosanya?

 

Mikir dong! Tidak, saya tidak bermaksud mengekang siapa-siapa. Tapi kita harusnya sadar bahwa di dunia ini kita tidak hidup sendiri, ada begitu banyak orang yang dapat merasakan dampak dari apa yang kita katakan dan lakukan. Apalagi yang sifatnya melalui media massa, contohnya film dan sinetron. Kalau tayangan itu tidak memberikan tuntunan bagi masyarakat, malah menjerumuskan mereka kepada maksiat, siapa yang bertanggungjawab atas rusak dan kacaunya tatanan masyarakat kita?

 

Pemerintah bertanggungjawab, partai politik, ormas-ormas, ulama, cendekiawan, produser, sutradara, artis, hingga masyarakat per individu juga mengambil porsi tanggungjawab sesuai porsi peran mereka masing-masing. Ingat kasus khamar? Tak ada istilah khamar itu haram buat anak kecil dan halal buat orang dewasa kan? Pun, pembuat khamar, penjualnya, hingga yang minum-minum khamar semua mendapat konsekuensinya. Begitu pula soalan tayangan ini, begitu pula konten media yang disajikan kepada masyarakat kita.

 

Makanya, pilah-pilih dengan hati-hati dan teliti… Untuk selamatkan negeri…

Februari 13, 2008

Antri dong oi!

Filed under: Budaya — smartkoko @ 4:24 am

    Hari ini saya mendapat satu pengalaman yang tergolong paling memuakkan. Tadi siang, saat saya dan beberapa orang sedang mengantri di kasir swalayan, tiba-tiba ada cewek yang menurutku “tidak punya cukup malu, tidak cukup dididik sopan santun, tidak berbudaya, dan tidak memiliki tata krama” yang seenaknya menyerobot. Yap! Cewek itu menyerobot.

    Namun, saya sedang dalam kondisi steady state, sehingga meski cukup terusik oleh aksi biadab wanita yang kebablasan emansipasi itu, toh saya hanya sampai pada tahap memicingkan mata, menghela napas panas, dan memancarkan aura penolakan yang dengan cepat berpadu dengan pancaran aura kebencian dan penistaan terhadap aksi wanita itu yang juga datang dari pengantri lainnya. Sebenarnya saya ingin melakukan satu hal lagi, tapi terbayang kekonyolan rentetan acara selanjutnya, maka batallah niatanku untuk men-tackle kakinya, dengan harapan kepalanya terbentur di mesin kasir, dan seterusnya. Hehehe.

    Meski dia mencoba bertingkah genit dan centil untuk “mempermaklumkan keadaannya yang kurang waras”, kami para pengantri yang diserobot malah memasang aksi cuek dan bertindak seolah-olah kami tak melihat kehadiran makhluk hina-dina itu. Hahaha. Dan cewek slengean itu tampaknya makin salting saja karenanya. Dasar bego’! Belum lagi menilik pakaiannya yang kurang bahan, compang-camping dan kekecilan.

    Doa pun terpanjatkan. Semoga wanita itu menderita gastroenteritis akut, atau malah mendapatkan balasan yang minimal setimpal atas aksinya yang melanggar HAM itu. Semoga wanita itu kehilangan camilan yang dibelinya, atau minimal tersedak karenanya. Hihihi, kejam memang. Dan segera setelah tersadar, saya pun segera meralat doa spontanku itu dengan doa yang lebih beradab dan menguntungkan. Semoga dosaku digugurkan Allah atas perisitwa ini dan saya pun dapat memetik hikmah dari kejadian ini.

Tema: Banana Smoothie. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.